Deskripsi
Penulis: Mr. Joy
Tebal: 454 halaman
Di sebuah gym mewah di pusat kota, Arvin terbiasa menguasai setiap ruangan yang ia masuki. Hingga suatu malam, matanya terpaku pada sosok yang menghancurkan seluruh fokus latihannya: seorang perempuan berambut pirang dengan tubuh hourglass yang mematikan, yang justru sibuk mengangkat beban squat lebih berat daripada kebanyakan pria di ruangan itu. Pertemuan mereka berawal dari tangan yang sama-sama meraih dumbbell di rak yang sama, lalu berlanjut ke candaan di minimarket pukul sebelas malam soal rasa susu protein, hingga malam di pinggir jalan saat Lina mempermalukan Arvin dengan membuktikan bahwa pria berotot sebesar itu tidak bisa mengganti ban mobilnya sendiri. Semakin Arvin dekat, semakin ia terseret ke dalam gravitasi yang tidak bisa dijelaskan oleh logika—wajah Jawa Lina yang manis, tubuh atletisnya yang memadukan kelembutan feminin dan kekuatan otot yang tersembunyi, serta cara bicaranya yang cerewet, lucu, dan tanpa filter membuat Arvin terus penasaran. Dan Lina tahu persis bahwa Arvin penasaran.
Di balik pesona yang memukau itu, Lina menyimpan jurang yang siap menelan siapa pun yang berani mendekat. Ia bukan perempuan biasa, Lina berulang kali berusaha mendorong Arvin pergi, menyuruhnya balik jadi orang yang cuma saling sapa di gym, karena ia sudah terlalu sering melihat pola yang sama: orang datang karena penasaran, lalu pergi setelah tahu terlalu banyak. Arvin yang mengaku tetap tidak jijik pun akhirnya dihadapkan pada ujian yang jauh lebih berat dari sekadar empati—pagi itu, di balik kaca buram kamar mandi, ia menyaksikan siluet telanjang Lina di bawah pancuran shower, dan di antara paha yang kokoh serta pinggul yang lebar itu, sebuah kejantanan tegak berdiri dengan gagah, menghancurkan persepsi Arvin dalam satu detik. Kini pria yang selalu terkendali itu terdiam seribu bahasa, terperangkap di antara nalar yang berteriak dan gairah yang membakar, sementara Lina berdiri di depannya dengan handuk putih yang nyaris terlepas, senyum menggoda di bibirnya, dan tantangan yang bergantung di ujung tatapan mata cokelatnya.
Jika kamu berada di posisi Arvin akankah kamu memilih pergi, atau justru menyerah pada rasa penasaran yang sudah membakar sejak malam pertama di rak dumbbell itu?










Review
Belum ada yang kasih review.